Kamis, 24 Mei 2012

Mengembangkan Sikap Apresiatif dan Afirmatif

  http://i337.photobucket.com/albums/n399/lexchandra/Zen%20wisdom/2008-11-10-2.jpg
Mungkin kita ingat pengalaman masa kecil saat kita jatuh gara-gara tersandung batu atau kaki kursi. Kita lalu menangis dan orang tua kita membujuk kita agar berhenti menangis dengan membuang batu atau memukul kursi itu. Dengan mimik wajah jengkel atau marah, tindakan itu disertai kalimat, “Batunya nakal ya…..?  Gara-gara kamu, anakku jatuh!”, atau (sambil memukul kursi) “Kamu kurang ajar ya?!” Biasanya tangis menjadi reda karena penyebab jatuhnya kita itu sudah kena marah atau pukul dari orang tua kita.


Tindakan sederhana itu biasanya terus terulang dan menjadi kebiasaan yang tidak disadari terbawa sampai kita dewasa. Setiap kali kita “jatuh”, mengalami kegagalan atau situasi yang tidak mengenakkan, kita cepat mencari “penyebab di luar diri” dan menyalahkannya.  Kalau nilai ujian kita jelek, kita cenderung menyalahkan guru atau dosennya yang cara mengajarnya gak becus, atau materinya yang terlalu berat. Kita cenderung mudah mencari “kambing hitam” dan menghakimi orang lain atau sesuatu sebagai penyebab kegagalan kita.
Kebiasaan menghakimi itu lebih menunjuk pada kesalahan atau kekurangan di luar diri kita. Biasanya muncul sikap apriori atau curiga dan cenderung menilai orang lain atau sesuatu di luar diri menurut pandangan kita sendiri. Seolah-olah tidak ada kesalahan atau kekurangan dari diri kita yang turut andil dalam pengalaman yang tidak mengenakkan itu. Kita lupa untuk melihat diri atau melakukan refleksi atas diri kita. Padahal mungkin saja kita jatuh karena kita kurang hati-hati saat berjalan. Nilai ujian kita kurang memuaskan karena kita sendirilah yang malas belajar. Terjadi konflik dalam relasi karena kita sendiri yang kurang rendah hati, tidak berusaha memahami orang lain atau cara komunikasi kita yang kurang tepat.
Kecenderungan melihat sisi negatif dalam keluarga dan lingkungan/masyarakat juga dapat mengondisikan diri kita mudah memiliki persepsi bahwa diriku akan dimarahi atau dianggap jelek kalau kita melakukan kesalahan. Akhirnya kita cenderung mudah membela diri dan merasa diri paling benar. Sebaliknya bila lingkungan keluarga dan masyarakat kita terbiasa melihat sisi positif dan memberi apresiasi serta dukungan untuk mengembangkannya, kita akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, mudah menghargai orang lain dan optimis dalam hidup.
Yesus mengingatkan kita untuk tidak mudah menghakimi orang lain supaya kita tidak dihakimi karena penghakiman dan ukuran yang kita pakai untuk menghakimi dan mengukur orang lain akan dikenakan pada kita juga. “Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu”, tegur Yesus pada orang munafik. Yesus mengajak kita untuk introspeksi diri dan menyadari bahwa diri kita juga mempunyai kekurangan sehingga kita tidak mudah menghakimi atau melihat kekurangan orang lain.
Secara positif, kita perlu mengembangkan sikap sabar, memberi kesempatan dan peneguhan kepada orang lain untuk memperbaiki diri atau menjadi lebih baik. Kekurangan atau kesalahan diakui dan diterima dengan sabar. Segala kebaikan dan potensi yang ada dikembangkan dengan penuh pengharapan (optimis) agar membuahkan kebaikan bagi diri maupun lingkungannya. Kita patut bersyukur karena percaya pada Yesus yang menyatakan dirinya “datang ke dunia bukan untuk menghakimi melainkan untuk menyelamatkannya.”
Maka, tugas kita sebagai OMK adalah belajar dari sikap Yesus dan mengusahakan kehidupan bersama yang saling menghargai, memberi apresiasi dan meneguhkan (afirmasi) perkembangan diri dan sesama. Apakah diri ku, keluarga dan komunitas OMK ku sudah menghidupi sikap apresiatif dan afirmatif ? Mari kita mulai dari diri sendiri, lalu bergandengan tangan dengan yang lain untuk terus memperjuangkannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar